Peduli Lingkungan dengan Reuse Bahan Bekas

Sebenarnya ini bukanlah cerita tentang lingkungan hidup ala situs-situs “go green", ini sekedar sharing aja. Karena jujur saja, saya nggak seberapa pede menceritakan aktivitas yang saya lakukan selama ini. Benarkah  saya ini sudah benar-benar peduli lingkungan? Bisa dibilang bahkan 10 % pun belum ada. 

Saya selama ini cuma bisa terkagum-kagum melihat bagaimana orang-orang di luar sana melakukan perubahan dan minimalnya menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan dalam keseharian mereka.

Gaya hidup peduli lingkungan hidup itu bisa ditinjau dari banyak aspek. Ada yang lebih perhatian pada persoalan hemat listrik dan air, pengolahan limbah untuk energi bahan bakar alternatif, bank sampah, masalah transportasi, sampai berkebun organik di rumah-rumah. 

Apapun yang menjadi fokusnya, menurut saya tidak masalah. Karena kemampuan dan ketertarikan orang kan beda-beda. Saya sendiri lebih suka melakukan hal-hal yang berbau “crafty” untuk reuse alias membuat karya dari bahan bekas. 

Apalagi ditunjang hobi saya sejak kecil yang suka memunguti benda-benda kecil semacam kertas, daun kering, dan kain-kain perca untuk dibuat kerajinan. Jangan dibayangkan kerajinan yang saya buat itu kerajinan yang oke banget seperti yang ada di pameran-pameran craft dari bahan bekas. Jauh, lah.
Kreativitas itu bisa dilakukan pada apapun termasuk sampah! Foto: Wikimedia Commons

Saya sih cuma suka bikin item-item yang masih terkait dunia ketrampilan. Awal mulanya pun tidak terduga. Gara-gara nyasar ke blog luar negeri saya jadi tahu kalau di sana pengrajin yang peduli lingkungan hidup berupaya berkarya dengan plastik, kresek, karton belanjaan, botol dan kaleng bekas menjadi karya yang unik dan spesial. 

Ada yang merajut kaos bekas menjadi keset warna-warni yang cantik, ada yang membuat kaleng cat jadi pot bunga, hiasan dinding dari karton tisu gulung, lampu hias dari kotak susu, bahkan tas dan aksesoris dari kresek bekas!

Berbekal dari blog-blog inspiratif itulah saya belajar untuk menerapkan hal yang serupa. Dulunya saya mudah sekali membuang barang yang tidak berguna ke tong sampah. 

Sekarang saya musti mikir-mikir dulu. Apakah bungkus plastik ini bisa dimanfaatkan? Saya tanya diri sendiri. Akhirnya saya pun jadi suka mengumpulkan botol-botol, kardus, kertas-kertas, dan bungkus kopi, sabun dan lainya berdasarkan kategori masing-masing. Saya pun harus rela dipanggil “tukang mulung” atau “tukang utis” oleh saudara-saudara saya karena hal ini.
Kumpulan Sampah untuk Dipilah-pilah. Foto: Wikimedia Common

Untuk baju-baju yang tidak muat atau tidak layak pakai saya seringnya sih menjadikannya sesuatu untuk dimanfaatkan di rumah seperti: lap piring, serbet, tirai, keset, pegangan panci, atau alas piring. Sementara untuk baju yang layak pakai biasanya diberikan ke orang lain yang membutuhkan. 

Bersih-bersih rumah dari barang yang tidak terpakai itu penting lho, rumah jadi lebih bersih dan terhindar dari penumpukan benda-benda yang bisa bikin rumah terlihat semrawut dan kotor. 

Adalah freecycling sebuah gerakan yang memberikan benda-benda yang tidak terpakai secara gratis ke orang yang membutuhkan sehingga meminimalisir konsumerisme di kalangan masyarakat. Ini solusi yang tepat untuk mereka yang ingin menyingkirkan barang-barang yang tidak dibutuhkan tanpa harus membuangnya, Sebaliknya sangat menguntungkan bagi orang yang menerima karena nggak perlu beli. Win win solution!

Buy Less, Make More

Bisa dibilang nenek saya termasuk  inspirator saya dalam me-reuse barang-barang tak terpakai. Beliau sering memanfaatkan kain-kain perca dan pakaian bekas lalu mengkreasikannya menjadi benda baru yakni keset warna-warni yang cantik dan bertebaran di rumahnya. 

Ia menjahit sendiri dengan tangannya, bisa dibayangkan menjahit bagian-bagian kecil dan menyatukannya satu-persatu itu sangat melelahkan. Begitu pun ibu tiri saya yang sangat efisien dalam melakukan permak pada bantal-bantal usang menjadi baru kembali.

Awal mula saya tertarik me-reuse barang adalah saat saya kecil. Yakni  lap khusus cuci tangan (yang biasa ada di atas wastafel) yang saya buat pas masih duduk di bangku SD dari kain perca dan baju bekas ibu saya yang masih bagus. 


Saya guntingi baju-baju bekas, lalu saya konstruksi membuat lap tangan dengan menjahit tangan setiap sisinya hingga bisa digunakan ulang. Waktu itu saya belum ngeh soal bahan. Idealnya memakai kain handuk atau katun. Tapi saya ngawur saja milihnya. Alhasil, ketika dipakai ternyata kain yang saya jadikan lap tangan itu nggak menyerap air.

Okelah, setidaknya saya mulai belajar reuse dari situ. Hingga akhirnya saya bisa memanfaatkan baju tak terpakai untuk dijadikan lining tas. Ini nih gambarnya. 


Alas tas ini dari kain perca yang tidak terpakai. 
Foto: dokumentasi pribadi

Senang sekali saya membuatnya, karena selain hemat tidak perlu membeli kain baru.

Bukan cuma kain dan baju bekas. Saya jadi semakin suka eksperimen dengan bahan-bahan lain termasuk sampah dari bungkus-bungkus produk yang ada di rumah. Mulai dari botol-botol minuman, kardus, baju-baju dan perca, CD, kotak-kotak kue bekas kondangan, plastik baju, bungkus odol, kopi, kaleng bekas, dan kertas-kertas hasil nge-print yang gagal. 


Ini salah satu karya reuse CD yang tidak terpakai. 

Jam dinding dengan CD bekas. Foto: dokumentasi pribadi


Dan juga sampah kotak sabun.


Memanfaatkan kotak bekas sabun. Foto: dokumentasi pribadi

Tidak semua sampah bekas ini saya olah untuk menjadi kerajinan. Biasanya saya pilah-pilah dulu yang sesuai. Kertas bekas adalah benda terbanyak yang saya miliki saat masih kuliah. Terinspirasi dari salah seorang teman, kertas-kertas print yang bagian belakangnya masih kosong saya jadikan binder. 

Caranya dengan melipat jadi dua (yang ada cetakannya di bagian dalam), lalu bagian sisinya di-plong dengan pembolong kertas agar bisa diselipkan tali pengikatnya. Bagian sampulnya saya buat dari kardus yang dihias dengan guntingan huruf dan gambar dari brosur yang tidak terpakai atau bisa juga memakai bahan-bahan alami seperti; dedaunan kering, bunga rumput, dan klobot jagung agar lebih terkesan natural. Lumayan untuk dijadikan buku catatan, daripada beli.

Kresek Pun Bisa Dirajut!

Saat saya bisa merajut kegiatan memanfaatkan sampah semakin lebih mudah. Salah satu sebabnya adalah karena saya bisa merajut kresek-kresek yang menumpuk di rumah menjadi sesuatu yang baru. 

Kresek dipotong sesuai pola, lalu disambung-sambung menjadi plarn (istilah untuk menyebut benang dari plasitik, akronim dari plastic yarn)

Contoh rajutan dari plastik (plarn) menjadi keranjang multifungsi. Foto Wikimedia Commons

Plarn digulung hingga mencukupi jumlahnya, lalu dirajut menjadi benda yang diinginkan.
Ada banyak ide-de kreatif untuk membuat aksesoris, tas, keranjang, atau bahkan baju dari plarn alias kresek ini. 

Tapi tentu saja kresek yang dimiliki adalah yang memang ada di rumah dan menumpuk karena sebab yang wajar. Jangan sengaja beli kresek baru semata-mata untuk membuat produk dari plarn ini.

Tips untuk Membiasakan Peduli Lingkungan dari Rumah

1. Mulailah dari diri sendiri. Ingatlah bahwa kepedulian kita pada lingkungan dampaknya akan kembali lagi ke diri kita. Ingalah selalu bahwa apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Jangan menuntut orang lain sebelum kita sendiri berubah menjadi lebih baik.

2. Ingat selalu konsep manajemen 3 R. Reduce, Reuse, Recycle.

Reduce artinya mengurangi pembelian, penggunaan, atau konsumsi barang yang tidak perlu. Jika kita meminimalisir pembelian barang yang tidak dibutuhkan, otomatis sampah yang kita hasilkan tidak banyak. 

Tanyakan diri sendiri apakah kita butuh beli produk A, B, C, dan seterusnya? Apakah bungkus sampahnya nanti bisa dimanfaatkan atau akan berakhir di tempat pembuangan? Termasuk dalam kategori reduce adalah mematikan air kran jika sudah penuh, mematikan lampu, atau menghemat energi agar tidak terbuang sia-sia.

Reuse artinya menggunakan bagian dari barang yang tak terpakai untuk dijadikan sesuatu yang baru. Misalnya membuat kerajinan dari botol bekas, mengubah kaleng cat menjadi pot bunga, atau menggunakan bahan bekas lainnya untuk mainan anak-anak.
Mainan bayi yang saya buat dari bahan bekas. Foto:dokumentasi pribadi / graphicalova

Recycle artinya mendaur ulang barang menjadi sesuatu yang baru. Jika nilai/kualitas barang menjadi lebih tinggi dari barang awalnya maka itu disebut upcycle, sebaliknya jika nilai/kualitas barang baru lebih rendah dari barang asalnya maka itu disebut downcycle. Contohnya, daur ulang kertas.

Menurut saya dari ke-3 konsep tersebut recycle adalah yang paling susah, makanya  kebanyakan saya berusaha melakukan yang reduce dan reuse terlebih dahulu.

3. Kembangkan kegiatan berkaitan lingkungan yang menjadi hobi kita. Suka berkebun? Lakukan saja. Sekarang konsep berkebun lebih luas yakni dengan adanya konsep indoor garden untuk yang tidak punya lahan/ pekarangan. 

Demikian juga kalau punya hobi menjahit atau kerajinan tangan, bikin dari bahan yang tidak terpakai untuk dijadikan sesuatu yang bernilai.
Wadah bekas juga bisa dimanfaatkan untuk berkebun. Foto: publicdomainpictures

4. Cek baju-baju di lemari, apakah sudah kelebihan muatan? Kecenderungannya perempuan suka belanja baju, sehingga lemari makin sumpek dan banyak baju yang tidak terpakai. 

Pilih pakaian yang jarang dipakai (apalagi yang sudah lebih dari 1 tahun), sumbangkan ke orang yang membutuhkan, atau jika merasa punya kreativitas yang oke, silahkan dipermak dan dijadikan kerajinan yang bernilai tinggi.
Mengapa tidak memanfaatkan baju atau perca yang tidak terpakai menjadi item yang keren?
Foto: publicdomainpictures

5. Jalan kaki atau gunakan sepeda jika keluar rumah ke lokasi yang terjangkau. Selain lebih sehat, ini juga membantu meminimalkan polusi udara karena asap kendaraan bermotor.

6. Donasikan barang-barang yang tidak terpakai. Monitor yang tidak terpakai, stroller, meja, atau lemari yang jika dibiarkan akan jadi sarang tikus, berikan pada orang lain. Atau jika ingin untung, silahkan bawa ke tukang loak untuk dijual.

7. Pilah sampah kering dan sampah basah. Banyak orang yang bahkan bisa berbisnis karena mampu mengelola sampah dengan baik.
Sampah kulit jagung dibuat menjadi kerajinan. Foto: dokumentasi pribadi/ graphicalova

8. Beli bahan makanan dari pasar lokal, seperti sayuran, ikan, daging, ayam dan bahan lainnya. Kurangi membeli bahan makanan produk pabrik atau produk kemasan. 

Semakin banyak barang yang dibeli dari supermarket, semakin banyak bungkus kemasan yang akan dibuang ke tempat sampah.

9. Masak makanan dengan kadar yang cukup. Jangan berlebihan agar tidak perlu membuang makanan sisa.

10. Setelah kita sendiri konsisten dengan gaya hidup go green. Maka tidak ada salahnya mengajak dan memberi contoh pada keluarga sendiri. 

Anak-anak adalah target yang bagus karena mengajari mereka ibarat mengukir di atas batu. Mereka sangat mudah mencontoh orang tuanya dalam bersikap dan berperilaku. Jangan bosan-bosan juga menasihati dan mengajak anggota keluarga lain agar peduli lingkungan. 


Rujukan:



http://news.liputan6.com/read/2016161/daur-ulang-sampah-hasilkan-seni-dan-uang
http://www.sustainablebabysteps.com/plarn.html 
http://www.plasticbagcrafts.com/make-plarn/
http://hanifweb.wordpress.com/2013/04/13/reduce-reuse-recycle/
http://en.wikipedia.org/wiki/Waste_management

::::
Disclaimer: Artikel ini untuk Lomba Blog yang diadakan WWF dan Blogdetik. Isi di luar tanggung Jawab kedua pihak tersebut.

Previous
Next Post »

7 comments

Click here for comments
6.6.14 ×

Ide yang sangat kreatif good share :)

Reply
avatar
F. Nisa
admin
12.7.14 ×

terima kasih

Reply
avatar
Novia Rizky
admin
6.6.15 ×

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Industri Kreatif. Tulisan diatas juga dapat menambah informasi mengenai berbagai macam kerajinan yang ada di Indonesia. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Industri Kreatif (Kerajinan) yang bisa anda kunjungi di http://indonesia.gunadarma.ac.id/

Reply
avatar
Yamie Zaibny
admin
20.1.16 ×

Izin share...

Reply
avatar
Greenpack
admin
5.2.16 ×

Mari dukung kami untuk mewujudkan indonesia yang lebih hijau. Kami memproduksi packaging makanan ramah lingkungan untuk menggantikan kemasan dari plastik ataupun styrofoam yang mengganggu lingkungan. Selengkapnya tentang kami dapat Anda lihat di sini : http://www.greenpack.co.id/

Reply
avatar
F. Nisa
admin
11.2.16 ×

Semoga bermanfaat ya =>

Reply
avatar