Serunya Mudik di Desa Wonosalam Jombang

Mudik paling seru terjadi sekitar dua tahun lalu. Saya, suami, dan si kecil berkunjung ke rumah mertua (Papa) di Jombang. Perjalanannya cukup jauh dari kota Bojonegoro, kira-kira 3-4 jam jika ditempuh dengan motor.

Hasil googling kami dari google maps menunjukkan bahwa jalur yang melewati hutan belantara adalah jalur tercepat dan paling bebas macet. Tadinya saya agak khawatir karena takut pas di tengah hutan tiba-tiba motor mogok atau kehabisan bensin-lah, atau ada problem apa gitu. Namun setelah dipikir-pikir, kami tidak suka “mati gaya” di jalan raya karena macet, jadi mau tak mau opsi melewati hutan adalah solusi paling realistis saat itu.

Saat hari sudah menjelang maghrib, kami akhirnya sampai di tempat tujuan dengan selamat, alhamdulillaah. Kalau saja kami terlambat sedikit, kami bakal kesulitan karena topografi jalan yang miring dan menanjak ke atas gunung. Selain itu minimnya lampu penerangan jalan membuat jantung mendadak disko. Deg-deg-an banget pas lihat jurang-jurang yang ada di kiri-kanan. Berasa naik roller coaster aja, hehe.

Perjalanan itu memang menantang karena pertama kali saya datang ke tempat yang ...alamak, ndeso banget!
Ndeso dalam kamus saya, artinya adalah sangat konvensional dan cenderung membaur dengan alam. Saya suka itu. Tinggal di desa sangat ideal untuk mereka yang ingin merasakan harmonisasi dengan alam.

Bangun pagi, nggak perlu alarm. Ayam jantan berkokok sangat keras dari sejak jam 2 dini hari. Iklim sangat dingin sehingga kalau malam-malam ke kamar mandi, rasanya males banget karena otomatis airnya pun sangat dingin. Padahal kalau kedinginan kan, jadi makin sering ke kamar mandi. Ya, nggak sih?

Selain itu, yang bikin saya makin merasa sangat ndeso adalah: tidak berfungsinya gadget yang kami bawa. Terutama ponsel, sih. Sinyal hanya satu dua bar. Kadang malah hilang sama sekali. Suami yang membawa modem Smartfren Huawei EC1261-2, berharap bisa liburan sambil online. Tapi apa daya? Tidak bisa connect...hiks hiks.

Akhirnya selama 3 hari di desa, kami membebaskan diri dari segala macam gadget. Berusaha untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga besar dengan lebih sederhana, lebih tradisional, dan lebih menyatu dengan alam.

Saya paling terkesan ketika papa mengajak kami "berpetualang" ke kebun. Dari dulu saya memang paling antusias kalau harus menjelajah hutan atau naik ke gunung. Saat dibilang kalau sekalian panen kopi atau cengkeh, tambah semangat saya. Asyik!

Kebun Papa cukup luas, entah berapa hektar saya nggak seberapa ingat. Kebun itu ditanami cengkeh, kopi, durian, kelapa, dan tanaman lainnya. Agak heran juga sih, mengapa kesannya random gitu jenis tanamannya. Ketika ditanyakan, Papa menjawab bahwa masyarakat tradisional memang menanam sesuai dengan kebutuhan. Tidak seperti kebun milik perusahaan yang cenderung terorganisir dengan baik, misal seluruh lahannya digunakan untuk budidaya cengkeh, kebun milik masyarakat desa biasanya memang bervariasi. Asal apa yang bisa ditanam ya ditanam. Tapi kebanyakan yang dibudidayakan adalah cengkeh, kopi,durian, dan cokelat.

Kebun itu berjarak agak jauh dari rumah utama. Kami harus menyusuri jalan setapak yang tanahnya tidak rata. Kami sudah diingatkan bahwa nanti akan banyak nyamuk hutan yang ukurannya besar-besar, sehingga harus berpakaian lengan panjang, topi, dan tak lupa sepatu boot.

Sepanjang jalan saya melihat banyak jenis tanaman dan pepohonan dari dekat. Setiap kami menanyakan jenis pohon tertentu, Papa akan menjelaskan detailnya, mulai pembibitan, perawatan, penyiraman, hingga pemanenan. Semua proses penyiraman menggunakan air dari mata air pegunungan yang dialirkan menggunakan pipa dari semacam selongsong terpal. Air gunung ini sangat jernih dan segar. Bahkan rumah-rumah penduduk pun airnya ya dari mata air ini, bukan seperti di kota-kota besar yang airnya dari PDAM atau air tanah atas. Jadi air kran di kamar mandi rumah itu sumbernya ya dari mata air langsung… ckckck… benar-benar saya dapat pengalaman yang berharga.

Saat itu saya juga baru menyadari bahwa di tempat yang ndeso itu ternyata menyimpan potensi wisata yang sangat populer di Indonesia. Kecamatan Wonosalam, Jombang tempat papa tinggal dikenal tempat wisata seru lho, bahkan sangat terkenal. Ada Guardian Jungle Wonosalam yang biasa digunakan untuk training outdoor sekolah-sekolah, perusahaan, dan wisatawan lain. Lokasinya ada di desa sebelah sih, namun saya beruntung bisa melihat-lihat spotnya karena cukup dekat dengan kebun papa. Sarana yang disediakan di spot ini adalah flying fox, camp, high ropes, All Terrain Vehicle (yang lokasinya ada di dusun sebelah). Wisatawan memang sering datang ke Wonosalam untuk aktivitas outdoor, training, hiking, camping, hingga rafting. Buat yang suka go green lifestyle, tempat ini recommended abis.

Biarpun saya nggak bisa online, nggak bisa sms-an atau telepon saat mudik di desa, setidaknya saya mendapat banyak pengalaman tak ternilai. Bersilaturahim, kumpul bareng keluarga, bikin ketupat, melihat-lihat alam pegunungan, semuanya sangat asyik dan seru. Sayang sekali, saat ke sana saya nggak sempet foto-foto. Padahal banyak banget spot yang keren untuk diabadikan.



Previous
Next Post »

11 comments

Click here for comments
Mugniar
admin
7.8.14 ×

Aih asyiknya liburannya Mak.
Waah di Jombang kan ada kumpulan bloggernya juga? Sy kenal beberapa .. kenal dari dunia maya sih hehehe, seperti Mas Lozz Akbar (ada akun FBnya tuh), Prit (Zuhanna nama FBnya) dan suaminya - mas Hakim. Mereka blogger2 keren :)

Salam kenal dari Makassar ya Mak. Blognya keren :)

Reply
avatar
Dazzle
admin
7.8.14 ×

Wah di Jombang ya, jadi kangen kesana maen2 di hutan, cari buah durian.. huhuhu

Reply
avatar
E. Novia
admin
7.8.14 ×

sayang banget ya ga bisa foto-foto, Mak.

tapi dibayangan saya, tempatnya emang sejuk dan asri banget.

Reply
avatar
7.8.14 ×

salam kenal mak :).. Jombang seruuu ya...dan kebayang asyiknya ke main di kebun, apalagi dengan adventure games :)..cheers..

Reply
avatar
F. Nisa
admin
12.8.14 ×

asyik bgt emang. salam kenal juga ya, mak...: )

Reply
avatar
F. Nisa
admin
12.8.14 ×

durian komboh ya? apa namanya, lupa aq. *bukan penggemar durian soalnya

Reply
avatar
F. Nisa
admin
12.8.14 ×

iya, mak. berkali-kali ke sana tapi nggak bisa foto2 itu gimanaa gitu....T __T
dingin banget emang. sampe males mandi, *ups

Reply
avatar
F. Nisa
admin
12.8.14 ×

salam kenal jugaa : 3

iya, mak. ada rafting juga katanya, tapi entah di desa sebelah mana..hehe

Reply
avatar
Mugniar
admin
13.8.14 ×

Waah mau ralat Mak .... kayanya blogger Jember deh mereka .. keliru saya .. maap.

Oya, sekalian jawab .. IIDN itu Ibu2 Doyan Nulis, komunitas ibu2 yang mau belajar menulis ... khusus perempuan juga :)

Reply
avatar
JUNAEDI
admin
29.8.14 ×

Wonosalam mana ya kok sampai ga dapat sinyal he he he ... dari tulisannya kayaknya sebelah selatan Wonosalam (Guardian Jungle) yang memang lokasinya "agak ekstrim", "jalur tikus" yang sering sy lalui menuju Malang.

Reply
avatar
F. Nisa
admin
29.9.14 ×

desa komboh, yang agak naik ke atas itu ya. tapi itu kejadian 2 tahun lalu. terakhir saya ke sana Agustus kemarin kayaknya udah oke sinyalnya. maklum bukan orang Jombang asli.

Reply
avatar