Makin Peka Lingkungan Berwisata di Hutan Mangrove Gunung Anyar

Kota Surabaya dari dulu membuat imajinasiku berkelana tentang sebuah kota Pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan penting sejak zaman Belanda. Tak pernah terbersit sekali pun bahwa di kota terbesar kedua di Indonesia ini akan melahirkan sejumlah tempat wisata penting bernuansa lingkungan.

Mengherankan, ya? Sama. Aku pikir “surga wisata” di Surabaya hanyalah mall-mall mewah untuk kalangan shoppaholic saja. Aku tidak menduga bahwa di kota ini akan ada sejumlah lokasi yang asyik untuk kawasan wisata sekaligus belajar menyelamatkan alam dari kerusakan.

Bahkan luar biasa sekali saat di Pantai Timur Surabaya dibangun sebuah tempat wisata ecotourism yang menjadi jujugan siapa saja untuk belajar tentang ekosistem lingkungan mangrove dan fauna pesisir yang eksotis.

Konservasi hutan mangrove di Surabaya yang ingin kukunjungi adalah Wisata Anyar Mangrove Surabaya (WAMS). Keberadaan kawasan ini ada di Gunung Anyar, yakni salah satu dari kawasan hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya.

Sebenarnya ada lagi lokasi kawasan hutan mangrove yakni di Wonorejo yang lebih dulu dipopulerkan. Perbedaan kedua kawasan hutan mangrove ini sendiri sebenarnya tidak terlalu signifikan, karena ujung dari kedua hutan ini adalah laut lepas yang indah di kawasan timur Surabaya.

Kedua lokasi ini terhubung kurang lebih 4 km sehingga bisa dibilang kalau ekosistem, vegetasi, dan hewan-hewan penghuni hutan relatif mirip. Namun tetap saja, ada yang bilang kalau mangrove di Gunung Anyar ini lebih “perawan” dibandingkan dengan yang di Wonorejo. Karena itu, aku jadi ingin membuktikan kebenarannya.

Perlu diketahui bahwa kawasan hutan mangrove ini merupakan rumah bagi satwa endemik yakni burung-burung yang habitatnya asli di kawasan mangrove. Kurang lebih ada 147 spesies burung dan 12 hewan yang dilindungi tinggal di hutan mangrove ini.

Misal Bubut Jawa, Cangak Merah (Ardea purpurea), Raja Udang, Remetuk Laut (Gerygone sulpurea), Kuntul, Gagang-bayam timur (Himantopus leucocephalus) hingga burung pendatang seperti Cerek kernyut (Pluvialis fulva), Cerek tilil (Charadrius alexandrinus), Kedidi golgol (Calidris ferruginea), dan Titihan Australia (Tachybaptus novaehollandiae).

Selain itu ada juga monyet berekor panjang (Macaca fascicularis), dan sejumlah reptil eksotis yang khas.

credit: http://blog.goindonesia.com

Sisi yang menarik dari WAMS ini menurutku ada pada konsep ecotourism yang sangat kental dan manajemen lingkungan yang lebih melibatkan komunitas sekitar. Mulai dari pihak RT/RW, PKK, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), nelayan, petani tambak, UKM dan juga Karang Taruna.

Ditambah lagi adanya partisipasi aktif dan dukungan penuh dari pemerintah, universitas, lembaga-lembaga dalam maupun luar negeri. Mereka ikut bahu-membahu membantu menjaga kawasan ini.

Tak heran jika kawasan ini telah menjadi bagian dari pilot project untuk Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use (MECS) yang merupakan kerja sama antara pihak Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bersama dengan Japan International Agency (JICA).

Konsep Wisata Lingkungan di Hutan Mangrove Gunung Anyar

WAMS menawarkan konsep yang jelas untuk melihat bagaimana lingkungan yang dirawat dengan baik bisa menjadi sarana untuk menjaga kelestarian alam. Kawasan ini ditanami bakau di sepajang pinggiran pantai untuk menjaganya dari kerusakan pantai seperti abrasi atau interusi air laut.

Mangrove sendiri ditanam di pinggiran pantai dan berfungsi sebagai penetralisir limbah terutama logam berat yang masuk ke laut, sebagai alternatif untuk meminimalisir polutan, melindungi pantai dari abrasi, membantu menahan ombak dan air pasang guna mencegah banjir serta membantu melestarikan spesies hewan langka dan dan biota laut yang eksotis.

Selain itu hutan mangrove sendiri juga merupakan area hijau yang mendukung kelestarian flora dan fauna endemik, sumber penghijauan untuk menaungi kebutuhan ruang hijau di kota sepadat Surabaya, sekaligus menjadi ruang belajar dan rekreasi untuk anak-anak agar lebih peka lingkungan. Satu solusi untuk semua, benar-benar keren kan?

Mengapa harus Berwisata ke WAMS?

Bersentuhan langsung dengan alam saat asyik berwisata di Kawasan WAMS ini bisa dilakukan dengan menyusuri keindahan hutan mangrove dengan perahu asli nelayan. Bisa juga menikmati alam dengan berkelindan di jogging track yang teduh karena berpayung rimbunnya pepohonan mangrove. Jogging track yang ada terbuat dari bambu menambah suasana makin eksotis dan tradisional.


Keinginanku berwisata di tempat ini juga sekaligus untuk memberikan ruang belajar yang baru untuk si Kecil. Kami ingin mengenal lebih dekat kehidupan ekosistem di kawasan hutan bakau. Apalagi setelah tahu bahwa di kawasan ini ada Woody woodpecker (burung Caladi ulam atau Dendrocopus macei).

Wah, serius ada Woody Woodpecker? Burung pelatuk merah yang cerewet dan ketawanya aneh itu ada di WAMS? Penasaran betul, jadinya. Apalagi konsep wisatanya dilakukan dengan menyusuri langsung habitat flora dan fauna dengan perahu dari sungai Kebun Agung hingga Sungai Tambak Klangri. Seru, ya.

Menurut data di website WAMS, perjalanan dengan perahu tradisional tersebut bisa ditempuh selama 15 menit hingga 30 menit hingga bermuara di laut Pantai Timur Surabaya. Misi penting dalam wisata ini tentunya adalah untuk semakin menjaga kelesarian dan kebersihan lingkunan kawasan hutan lindung di WAMS.

Apalagi aku lihat di sejumlah kritikan yang tertulis di beberapa blog bahwa lokasi WAMS ini masih dijumpai banyak sampah plastik yang bertebaran di lokasi konservasi. Sayang banget, kan?

Harapanku tentu saja wisata alam berkonsep ecotourism semacam WAMS semakin digalakkan di Indonesia. Selain mewujudkan tempat wisata semacam ini tentunya lagi-lagi selalu mengingatkan diri sendiri dan siapa pun yang datang berwisata untuk selalu menjaga kebersihan.

Ingat, kebersihan dijaga dengan menahan untuk TIDAK BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Membuang sampah di tempatnya menjadi tanggung jawab pribadi, bukan semata-mata tanggung jawab petugas lokasi wisata.

Credit: flickr.com

Tips Trik Menuju Lokasi WAMS

Sejumlah catatan penting:
  • Perlu diketahui bahwa perjalanan menuju WAMS bisa ditempuh cukup dekat dari bandara Juanda. Bagi yang datang dari luar kota bisa memesan tiket pesawat untuk menuju Surabaya. Setelah sampai di Juanda, bisa memesan taksi menuju ke daerah timur kampus UPN, karena kawasan WAMS berlokasi di Medokan Sawah Timur Surabaya, atau di kawasan timur Perumahan Wisma Indah II. 
  • Bukan hanya mengunjungi WAMS? Ada beberapa lokasi wisata ecotourism yang menarik di Surabaya kok. Di antaranya adalah Kebun Bibit Wonorejo dan Hutan Mangrove Wonorejo. 
  • Kamu pun bisa memilih tempat menginap di kota Pahlawan jika berkunjung ke kota ini dalam beberapa hari. Ada banyak kok tempat menginap dan hotel yang bisa menjadi alternatif beristirahat. Beberapa hotel terdekat adalah Hotel Teratai, Hotel Ibis, Hotel Santika, Hotel Narita. Kalau mau cari hotel yang sesuai dengan budget atau lokasi sesuai keinginanmu, tinggal cari aja di internet.
  • Jam buka WAMS adalah jam 10.00 hingga jam 17.00 WIB setiap hari. Pastikan kamu datang di saat yang tepat ya.
  • Kalau ingin merasakan suasana yang lebih hangat dan tradisional, coba deh pesan makanan kuliner khas hutan mangrove (kepiting, udang, ikan) dan nikmati bareng-bareng di atas gazebo. Hmm....nikmat deh pastinya.
  • Oleh-oleh khas hutan mangrove Gunung Anyar adalah sirup dan dodol buah Bogem buatan warga sekitar. Baru denger? Sama. Memang kedengarannya kurang populer, tapi justru itu akan semakin membuat orang penasaran untuk berkunjung juga ke WAMS, ya nggak sih?
Oke. Demikian ulasan singkat tentang WAMS di Gunung Anyar Surabaya. Semoga bermanfaat ya.

--------------
referensi:
http://pusatstudisumberdayapesisirlaut.blogspot.com/2013/11/hutan-mangrove-gunung-anyar-surabaya.html
https://wamsby.wordpress.com
http://surabaya.panduanwisata.id/
Previous
Next Post »