Akhirnya Saya Berhenti Menjadi Workaholic Mom

Workaholic merupakan istilah yang ditujukan untuk orang yang secara berlebihan mengutamakan pekerjaan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain.

Kedengarannya ini lebih banyak dialami oleh pekerja, buruh, atau karyawan yang bertanggung jawab pada bosnya. Atau bahkan si Bos sendiri juga bisa terjebak menjadi seorang workaholic dalam rangka memajukan usahanya.

Workaholic sering beriringan dengan perfeksionisme. Walaupun tidak selalu demikian.



Artinya, ini menjadi suatu sinyal adanya ketidakseimbangan di dua aspek tubuh kita: fisik maupun psikis.

Sudah cukuplah kita mendengar ada yang meninggal karena bekerja terlalu keras. Seperti kasus meninggalnya seorang copywriter akibat lembur dua hari non-stop mengerjakan jobnya.

Apa sih yang kita dapatkan dari lembur tanpa henti seperti itu?

Mati sia-sia belaka?

Minimal risikonya adalah jatuh sakit.

Drop…

Tepar...

Saya sendiri pernah mengalaminya. I’ve been there done that.

IYA. Saya emang ibu rumah tangga. Dan ibu rumah tangga yang workaholic seakan kurang dengan waktu 24 jam yang dia miliki untuk mengatur semua urusannya.

Saya cenderung perfeksionis dan workaholic jika sudah mengerjakan sesuatu. Saat semua saya tangani, mulai dari pekerjaan profesional, pekerjaan rumah tangga (beres-beres, cuci baju, segala macem), dan mengurus anak plus homeschooling membuat saya sering kelelahan.

Iya, fisik saya sakit.
Iya, psikis saya lelah.

Ini bukannya kurang piknik atau kurang me-time seperti yang didengungkan orang-orang di lini masa.
Ini murni kesalahan saya sendiri yang kurang bisa manajemen waktu dengan baik.

Akhirnya saya mencoba memikirkan solusi yang paling praktis untuk bisa keluar dari rutinitas yang melelahkan jiwa-raga ini. Berikut yang saya lakukan:

#1. Fokus pada peran yang dijalankan.



 Saya harus tegas memilih ingin menjalankan role apa. Dan tetap berpegang untuk menjalankan role itu sebaik mungkin. Seorang ibu rumah tanggakah? Ibu bekerjakah? Ibu rumah tangga yang juga bekerjakah?

Berhubung saya tidak ingin menjalani beban ganda (ibu rumah tangga dan bekerja/mencari nafkah), saya pun memutuskan untuk fokus menjadi ibu rumah tangga full-time. Biarlah suami saja yang mencari nafkah. Dan saya yang mengurus segala keperluan suami dan anak-anak.

That’s fair.

Dengan fokus pada masing-masing tugasnya, kami bisa saling melengkapi dan tidak ada yang menanggung beban berlebihan.

Saya bukan superwoman, dan suami bukanlah superman. Kami manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga perlu dukungan satu sama lain untuk rumah tangga yang stabil dan harmonis.


#2. Membuat daftar tugas yang harus ditangani berdasarkan role tersebut dan mengurutkannya berdasarkan skala prioritas.



Misalnya, saya pernah dilema karena mendapat job menulis dengan fee yang lumayan. Tapi di satu sisi, job ini bisa mengurangi waktu saya dalam mengurus anak.

Karena saya mengajari anak sendiri (homeschool) dan punya bayi yang butuh kasih sayang optimal. Maka saya lebih memprioritaskan anak-anak daripada menerima job tersebut.

Buat saya mengurus keluarga itu tidak bisa dijadikan pekerjaan sambilan. Itu adalah pekerjaan utama yang hasilnya tidak bisa dilihat sekarang. Bisa jadi saat waktu berjalan belasan tahun, puluhan tahun kemudian. Jika tidak di dunia, maka di akhirat kita mendapat manfaatnya insya Allah.


#3. Belajar manajemen konflik dan menciptakan suasana positif satu sama lain.



Karena saya memahami bahwa konflik jika tidak teratasi dengan baik bisa menjadi bom waktu di kemudian hari.

Saat saya belajar manajemen konflik, saya mendapat beberapa keuntungan sekaligus. Misalnya, saya bisa mengenali karakteristik saya sendiri, dan semua anggota keluarga saya.

Semakin kita mengenali masing-masing karakter, kita makin bisa peka dengan kebutuhan fisik maupun psikologis mereka.

Saya juga berusaha untuk bisa membuat rumah menjadi tempat yang nyaman untuk keluarga. Berusaha menjadikan keluarga sebagai tempat yang bisa dipercaya untuk menumbuhkan kepribadian yang positif.

Apalagi di zaman sekarang ini tantangan yang dihadapi anak-anak sangat besar. Lingkungan pergaulan, media massa, dan internet yang tanpa batas mendorong degradasi yang mengerikan.

Belajar manajemen konflik juga bisa membantu saya untuk lebih sabar dan tahan banting saat kondisi psikologis atau fisik saya sedang tidak stabil.


#4. Selalu ingat, bahwa kebahagiaan itu sederhana.



Bahagia itu tidak diukur dari seberapa banyak duit sudah kita kumpulkan.
Tidak diukur dari secantik atau seganteng apapun pasangan kita.
Tidak diukur dari sebanyak apapun kadar keunyu-unyuan anak-anak yang kita miliki.
Tidak diukur pula dari setinggi apapun status sosial kita di mata masyarakat.

Saya tidak akan mendefinisikan bagaimana cara untuk bisa berbahagia, karena saya bukanlah Mario Teguh yang pintar bermain kata.

Setidaknya dari pengalaman saya sendiri, saya bisa merasakan bahagia jika saya bisa membuat orang di sekitar saya bahagia.

Misalnya:

Suami saya sangat senang jika saya membuatkan teh hangat manis setiap dia pulang kerja.
Dan jika dia senang, tanpa diminta dia akan membelikan wafer keju kesukaan saya.
Dan jika kami, para orang tua bahagia, maka kami juga akan berbagi kebahagiaan pada anak-anak kami di rumah.

Yah, sesimpel itulah. 
Coz, happiness is contagious, you know. 
Then, endorphin is everywhere…


#5. Menyadari bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Jangan sampai memforsir tenaga dan pikiran terlalu keras.



Realistis saja. Manusia bukanlah robot yang bisa terus melakukan hal yang sama terus-menerus tanpa istirahat.

Adakalanya kondisi sakit tidak bisa dihindari. Saat itulah saya harus mengevaluasi aktivitas yang saya kerjakan selama ini dan memikirkan solusi jika memang ada hal yang tidak tepat selama ini.

Saat sakit saya harus berusaha untuk segera sembuh, karena role ibu rumah tangga TIDAK ADA LIBUR/ TIDAK ADA CUTI. 

Setiap saya sakit saya selalu berusaha memulihkan diri dengan cepat. Karena bagaimana pun juga ada keluarga yang harus saya prioritaskan.

Dan tentu saja, dengan berhenti menjadi workaholic mom akhirnya saya bisa merasakan momen yang lebih nyata dan berharga bersama keluarga.

Last…

Untuk para ibu rumah tangga yang bergelut dengan urusan domestik (yang-seakan-tiada-akhir).
Jangan sampai menyesal di kemudian hari, saat kita sudah terlambat menyadari bahwa anak-anak yang kita sayangi sudah beranjak dewasa dan jauh dari kita.

Nikmatilah peluh keringat di saat ini, dan besarkan anak-anak kita dengan ikhlas. Didik mereka dengan sebaik-baiknya.

Waktu yang telah pergi, tak akan pernah kembali.
Time flies… so quickly.


From me…
Seorang ibu rumah tangga workaholic 


Previous
Next Post »

21 comments

Click here for comments
agi pranoto
admin
30.9.16 ×

bener banget mbak, bahagia itu sederhana, misalnya minum vitamin yang rasanya manis manis gimanaaa gitu hehehehe. semoga menang ya mbak, all the best! salam kenal <3

Reply
avatar
idhan hulwah
admin
30.9.16 ×

wah mba hidup emang pilihan ya, harus kudu bisa milih mau jadi IRT, pekerja atau dua-duanya dengan berbagai kendalanya.

Reply
avatar
Nurri
admin
30.9.16 ×

Bener bnaget tuh, Mbak.. Kalau udah sakit, bawaannya mau cepet sehat. Aplagi kalau udh berkeluarga yaa..
Semoga kita diberi kesehatan selalu. :)

Reply
avatar
30.9.16 ×

bener banget mbak, aku setuju dengan point 2, membuat rencana atau jadwal tugas. apa yang harus dilakukan atau tidak, mau single or married. terkadang untuk memudahkan pekerjaan memang kudu seperti itu. SETUJU

Reply
avatar
Vita Masli
admin
1.10.16 ×

Yang penting sehat dan bahagia mbak... Goodluck contestnya!

Reply
avatar
Nadella
admin
2.10.16 ×

"Bahagia itu tidak diukur dari seberapa banyak duit sudah kita kumpulkan.
Tidak diukur dari secantik atau seganteng apapun pasangan kita.
Tidak diukur dari sebanyak apapun kadar keunyu-unyuan anak-anak yang kita miliki.
Tidak diukur pula dari setinggi apapun status sosial kita di mata masyarakat."

Setuju deh Mbak

Reply
avatar
Enny Law
admin
2.10.16 ×

Awal2 nikah aku juga begitu tapi lama2 aku sadar. Tujuan nikah bukan buat beresin rumah terus, hihi. Padahal sebelum nikah beres2 ya seperlunya. Akhirnya evaluasi lagi dan atas masukan suami saya membagi waktu untuk ngerjain kerjaan rumah jd gak satu hari harus selesai semua kecuali nyapu sm ngepel, hihi.

Reply
avatar
indri
admin
6.10.16 ×

saya setuju...jadi ibu rumah tanggal malahan rentan stress loh :) salam kenal mba

Reply
avatar
Duniari
admin
7.10.16 ×

Semoga selalu diberikan kesehatan, Mbak :)

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

salam kenal juga. Fyi, theragranM manis di luar doang lho,mbak. klo kegigit dalemnya pahit bangeet... #serius

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

setiap pilihan pun punya pros & cons masing2. intinya, jangan sampe nyesel di kemudian hari #senyum

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

aamiin... #senyum

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

Hmm... iya juga sih. Everything should be planned well #senyum

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

Terima kasih sudah berkunjung... #senyum

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

Saya cuman nulis apa yg lewat di kepala saya. Maaf kalo bahasanya aneh... #nyengir

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

yup. Bagus banget kalo bisa saling diskusi antara suami-istri. Berat sama dipikul. Ringan sama dijinjing #peribahasa-SD

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

iyaaa... kebanyakan nggak menyadarinya sampe bener2 menjalani kehidupan irt yang sebenarnya.
salam kenal jugaa...#senyum

Reply
avatar
F. Nisa
admin
7.10.16 ×

terima kasih sudah berkunjung

Reply
avatar
12.10.16 ×

Bahaya juga kalo hidup kebanyakan mengutamakan pekerjaan dan lupa sama yang lain, harus belajar management waktu dengan sangat baik untuk memanfaatkan waktu 24 jam..

Reply
avatar
F. Nisa
admin
16.10.16 ×

Terima kasih sudah berkunjung

Reply
avatar
22.11.16 ×

wah setuju banget, makasih sudah di ingatkan lagi

Reply
avatar