Featured
Kerajinan Tangan Seraung Khas Dayak

Kerajinan Tangan Seraung Khas Dayak

Kerajinan tangan Seraung khas Dayak dibuat oleh masyarakat di Kalimantan sejak zaman dahulu. Bentuknya topi lebar. Mirip caping di Jawa.

Seraung digunakan setiap hari. Digunakan di ladang, di luar rumah, bahkan untuk acara adat suku Dayak.

Memang topi lebar seraung ini cocok untuk melindungi dari sengatan matahari yang terik. Di daerah Kalimantan yang panas. Yang dekat dengan garis khatulistiwa.

Selain melindungi dari terik, seraung juga dipakai saat hujan tiba. Begitu pun saat acara adat yang sering digelar di kalangan suku Dayak. Sejak dulu di masa lampau.

Pinterest

Seni kriya atau kerajinan tangan masyarakat Dayak sebenarnya bukan seraung saja. Dan kebanyakan memang dibuat untuk aktivitas rutin.

Topi seraung banyak beredar di Kalimantan. Ada banyak daerah yang membuat topi ini. Tapi salah satu yang terkenal ada di Dayak Kenyah. Yang lokasinya di Lekaq Kidau, Kalimantan Timur.

via IndonesiaKaya

Membuat seraung tidaklah mudah. Perempuan Dayak yang biasa bertugas untuk membuatnya. Seraung dianyam dari daun pandan kering. Dihias dengan manik-manik yang indah.

Selain daun pandan, ada juga menyebut seraung ini dibuat dari daun biru. Daun ini permukaannya lebar. Tumbuhnya di pedalaman hutan Kalimantan. Butuh perjuangan untuk mendapatkan daun yang menyerupai palem ini.

Masyarakat Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir harus menempuh jarak yang jauh. Perjalanan hingga 2,5 jam. Menggunakan perahu ketinting. Lalu berjalan kaki sekitar 2 jam.

Seraung
Pinterest

Begitu susahnya mencari daun biru masyarakat Dayak akhirnya memilih daun lain. Yang sama-sama bisa dipakai bahan  membuat topi. Tapi lebih mudah dicari : daun pandan atau daun kajang.

Mencari bahan sudah susah. Apalagi membuatnya. Satu topi bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Itu pun bikinnya harus teliti. Biar hasilnya maksi. Tak heran para perempuanlah yang membuat topi ini. Karena biasanya perempuan lebih jeli dan rapi. Membuat karya seni kerajinan tangan yang akhirnya disenangi hingga kini.

Bagaimana dengan laki-laki? Mereka juga berkarya. Hanya saja berbeda. Mereka membuat karya yang kokoh hasilnya. Seperti keranjang. Untuk dibawa berburu atau ke ladang.

Kini banyak warga yang membuat seraung-seraung ukuran kecil untuk hiasan.

Bahkan ada juga yang berinovasi. Membuat topi seraung dengan motif khas
Dayak Kenyah. Demi meningkatkan minat masyarakat untuk mencintai kriya khas nusantara.

Saya pernah membaca tugas akhir mahasiswa ISI tentang Karya kriya kulit untuk membuat seraung. Bukan untuk topi. Tapi untuk hiasan rumah. Seraung bertransformasi menjadi karya seni dekoratif.

Dalam tugas tersebut, mahasiswi tersebut menulis bahwa karya kriya yang ia buat menggunakan teknik jahit manual, teknik solder (pyrography) dan teknik tatah timbul.

Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringkan daun biru selama satu minggu. Lalu cuci hingga bersih sekitar lima menit.

Daun biru lalu diluruskan dengan cara digulung-gulungkan di tangan. Lalu simpan di bawah tikar agar lurus dan rata selama sekitar seminggu.

Daun yang sudah rata, lalu disusun. Dijahit dan dibentuk seperti kerucut. Setelah selesai dilapisi bagian daun tersebut dengan kain berwarna cerah.

Agar kokoh, bagian pinggir topi dipasangi lidi dari daun kelapa. Kemudian ditambah hiasan seperti sulaman atau manik-manik.

Manik-manik sendiri istimewa bagi suku Dayak. Hiasan ini  sudah dikenal sejak zaman logam di kawasan Kalimantan.

Manik-manik dibuat dengan kreativitas tinggi. Dibuat dari tulang, batu atau damar dari zaman purba.

Suku Dayak membedakan manik-manik besar dan manik-manik halus.

Yang besar dibuat dari kaca berwarna-warni. Sementara yang halus dipakai untuk sulaman pada benang.

Manik-manik besar berbeda-beda bentuk dan warnanya. Manik-manik ini bernilai tinggi.

Hasil kerajinan manik ini bervariasi. Mulai dari kalung, gelang, bening, pakaian, ikat pinggang, peralatan rumah, hingga hiasan pada seraung.

Topi seraung khas Dayak, kini makin banyak dilirik wisatawan. Bukan untuk dipakai, tapi untuk hiasan dinding, pajangan, hingga lampu hias. Tulisan saya tentang seraung ini, semoga makin membuat kita menghargai kearifan lokal di bidang kriya khas Indonesia.

Sumber
Blog pariwisatakukar.wordpress.com

Seraung Dayak Kenyah Sebagak Sumber Ide Penciptaan Karya Kriya Kulit, karya Elvia Juliana, ISI Yogyakarta 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *