unik
Kreasiku: Membangun Mimpi Ideal tentang Kerajinan Lokal

Kreasiku: Membangun Mimpi Ideal tentang Kerajinan Lokal

Kedua mata saya tak lepas memandang tas etnik Bali itu. Setengah kagum, setengah penasaran. Membayangkan bagaimana perempuan Bali menganyam rotan hingga berhasil membuat tas yang sangat khas.

Artem Bali Photography

Saya meraba permukaan tas yang halus, meski tampak “urat-urat” rotan yang masih berkelindan mencuat seperti hendak melompat dari jalinan benang warna pink ber-glitter itu. Tas itu cantik sekali. Setidaknya menurut saya, seorang pengrajin amatiran yang bercita-cita menghasilkan kriya lokal dari daerah saya sendiri.

Di Bali, tas berbahan dasar rotan seperti itu sangat banyak. Sebagian besar terlihat diproduksi massal dengan model, bentuk, dan ukuran yang mirip dari satu toko ke toko yang lain. Sebenarnya yang spesial dan otentik juga ada. Hanya saja menemukannya pun tidak mudah.

Artem Bali Photography

Saat itu saya berada di toko kecil tepat di samping dermaga. Matahari tak terlalu terik. Tapi angin laut dengan kencang terasa melewati selasar jendela besar yang menyerbu tubuh saya. Saya tidak kedinginan. Tapi jantung saya berdebar kencang. Itulah pertama kalinya saya merasa antusias dengan kerajinan tangan.

Saya harus membelinya. Tidak saya cek lagi bandrol harganya. Mungkin inilah alasan mengapa pecinta handmade menganggap harga itu bukan yang nomor satu.

Kreativitas, originalitas, sentuhan seni yang tak akan kamu temukan di produk lainnya. Kecuali di tempat yang sangat spesifik. Seperti di toko itu. Sebuah toko merchandise di dekat penyeberangan kapal ferry ke pulau kecil di selatan Bali.

Saya pun memutuskan tas etnik ini untuk hadiah tercinta. Untuk perempuan spesial yang sudah melahirkan saya.

“Yes, Mom. It’s for you. ” bisik saya dalam hati.

Demi mengusir rasa malu yang muncul karena untuk pertama kalinya saya memberi hadiah untuk ibu saya.

For the first …
and the last…

° ° °


Belasan tahun kemudian, saya mengamati. Perkembangan pesat hampir terjadi di semua lini. Era digitalisasi atau industri 4.0 yang mempersingkat proses produksi, pengemasan, pemasaran, komunikasi, transportasi, hingga kemudahan transaksi.

Bagaimana dengan nasib kerajinan tangan khas lokal kita? Masih dibuat dengan tangan dan hati? Atau sudah digantikan dengan mesin-mesin pabrik? Atau dibuat dengan tangan manusia tanpa melibatkan perasaan, harapan, nilai, dan cita rasa pembuatnya? Yang dibuat ibu-ibu rumah tangga dengan upah murah sebagai jawaban atas gempuran produk massal?

Artem Bali Photography

Kriya Indonesia itu luar biasa banyak. Pengrajin potensial yang menelurkan karya mendunia pun tak sedikit. Di luar negeri, sebagian karya buatan anak negeri begitu disukai. Tapi mengapa seakan di negeri sendiri, karya handmade kurang begitu mendapat tempat di hati?

Terbukti sebagai crafter yang sekian lama menggeluti bidang craft, tak jarang produk handmade yang begitu genuine dianggap mahal dan tidak lebih pantas dibandingkan produk “tembakan” merk-merk brand luar negeri ternama.

Ironis sekali, jika produk versi KW brand tas kulit mahal lebih disukai dibanding tas kulit lokal hanya karena “nggak terkenal”.

Ironis sekali, jika tas rotan made in China lebih condong dipilih karena murah, dibanding tas rotan made in Bali.

Ironis sekali, jika pengrajin handmade lokal harus memangkas ongkos produksi dengan upah sangat rendah untuk bisa bersaing merebut hati konsumen. Agar harganya bisa terjangkau. Saling banting harga, sampai lupa kalau esensi dari produk handmade adalah keunikan dalam setiap prosesnya.

Mulai dari penentuan ide produk, memutuskan jenis bahan baku, proses pembuatan yang dilakukan dengan riset berkali-kali, hingga selesai produk itu dibuat.

Japanese legacy: Keramik menjadi kerajinan otentik di Jepang. Diwariskan turun-temurun hingga keramik Jepang begitu mendunia.

Saya ingin mengedukasi. Agar masyarakat tidak lagi memandang rendah bangsa sendiri. Mulailah dari yang paling sederhana.

“Tolong, hargai kami. Berhentilah menawar produk handmade. “

Bantu para pengrajin yang mendedikasikan waktunya untuk menciptakan legacy. Di bidang kriya lokal. Yang kelak jika hasil karyanya, mereka toh juga bisa mengharumkan nama negeri ini. Semakin baik kualitas kerajinan yang diciptakan, manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak.

Artem Bali Photography

Ini mungkin curhat saya. Sebagai pengrajin, crafter, sekaligus penikmat barang handmade. Saya selalu mengapresiasi siapa pun yang memberi ruang untuk pengrajin seperti kami, untuk tumbuh dan berkembang lebih baik lagi. Untuk membangun mimpi dan meninggalkan legacy di bidang kriya bagi bangsa ini.

Bagaimana caranya? Mungkin itu yang ada di benak para pengrajin. Ketika mereka berharap ingin meluaskan pasar mereka, agar lebih dikenal.

Lewat marketplace…

via Kreasiku

Saya rasa itulah jawaban yang realistis.

Realistis karena zaman sekarang orang-orang semakin sibuk. Tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk membeli tas rotan etnik (yang sampai sekarang tas bahan rotan itu masih booming, bahkan jauh lebih variatif dibandingkan yang saya lihat di toko kecil di Bali).

Realistis karena pengrajin bisa pasang “harga yang manusiawi”. Harga yang pantas untuk karya handmade yang butuh ide dan pengerjaan yang menguras pikiran dan tenaga. Harga yang pantas untuk dedikasi. Bukan harga ndelosor, nyungsep, mengkurep, dan istilah marketing lain yang mengerdilkan nilai sebuah produk handmade.

Realistis karena…nyatanya platform yang memfasilitasi produk handmade tidak banyak. Salah satunya Kreasiku dari Blibli.com. Keuntungannya? Pesaing pun tidak banyak. Kelasnya juga beda dengan produk yang bukan handmade. Hanya orang-orang tertentu yang ingin membeli (menghargai) kriya khas lokal.

You’ve got your specific target market. And it’s a big advantage.

Unsplash

Apakah saya berharap menjadi craft-preneur? Tentu saja. Kelak jika sudah siap, saya ingin tas handmade kreasi saya menjadi bisnis utama. Saya ingin membuat karya khas lokal. Meski saat ini baru tahap perencanaan ide. Saya optimis Kreasiku adalah jalan keluarnya.

“He who works with his hands is a laborer.

He who works with his hands and his head is a craftsman.

He who works with his hands and his head and his heart is an artist.”

Francis of Assisi

2 thoughts on “Kreasiku: Membangun Mimpi Ideal tentang Kerajinan Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *