unik,  wedding

Perempuan yang Merajut Gaun Pengantinnya

Chi Krneta. Seorang gadis dari Seattle, Amerika Serikat yang istimewa. Ia merajut sendiri gaun pengantinnya. Hobi yang ia jalani sedari kecilnya.

Gaun itu dirajut dengan hati-hati. Di dalam bus. Yang ia naiki setiap hari. Selama lebih dari 150 hari.

via unsplash

Apa alasan Krneta melakukannya?
Ia menjawab, kebanyakan perempuan menghabiskan ribuan dolar untuk gaun pengantin.

Ia sendiri hanya perlu merogoh kocek sebesar 30 dolar atau sekitar Rp 330.000. Untuk semua bahan-bahan rajutannya. Bukan hanya benang. Tapi juga furing gaun tersebut.

Tak perlu mahal untuk membuat gaun pengantin yang spesial. Gaun itu lebih terjangkau hasilnya.

Krneta mengaku pada ABC News. Ia banyak merajut crochet dan membuat perlengkapan lain seperti topi, syal, dan gaun yang lebih pendek. Artinya? Sudah biasa ia merajut. Tangannya sudah terlatih.

“ Saya tahu. Saya ingin mendesain dan membuat gaun pengantin saya sendiri (saya juga menjahit). Saya menemukan bahwa merajut bisa menjadi cara yang paling efisien untuk mewujudkannya.” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa semua tamu yang ia undang di acara pernikahan sangat menyukai gaun pengantin yang ia buat. Para tamu berdecak kagum. Keindahan, kreativitas, dan ketelitian pembuatan gaun pengantin itu sungguh patut diapresiasi.

Sayangnya satu-satunya orang yang Krneta harapkan untuk melihat hasil karya tersebut malah tidak menghadiri pernikahannya. Sang nenek yang berjasa mengajarinya merajut selama ini tidak bisa melihatnya memakai gaun pengantinnya. Sang Nenek telah meninggal beberapa tahun lalu.

Selain merajut, Krneta juga seorang arsitek. Ia tidak hanya mampu merancang gaun pengantinnya sendiri. Tetapi juga termasuk gaun untuk teman pendamping. Dengan kemampuannya di bidang arsitek itu. Ia bisa hitung-hitungannya secara detail.

Ia mengaku bahwa ia memperlakukan proyek gaun pengantinnya seperti menangani proyek arsitektur yang ia kerjakan selama ini.

“Saya memperlakukan pernikahan saya seperti proyek arsitektur,” katanya.

“Saya memikirkan tentang berbagai cara bukan hanya menjadikan karya itu indah tetapi juga bermakna, praktis, terjangkau, dan berkelanjutan.”

Memang tidak semua berpikiran sama dengan Krneta. Yang memilih kategori “istimewa” dalam pandangannya sendiri.

Tak perlu jadi Crazy rich untuk menjadi orang yang spesial, bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *