homeschooling
Homeschool vs Sekolah: Manakah yang Terbaik?

Homeschool vs Sekolah: Manakah yang Terbaik?

Saat awal memikirkan tentang pendidikan anak, saya sempat terjebak dengan dikotomi homeschool vs sekolah. Saat itu, dengan naifnya, saya menganggap bahwa homeschool lebih unggul dan lebih baik dibandingkan bersekolah di institusi formal (sekolah umum) maupun informal (pesantren/pondok/lembaga lain).

pixabay.com

Apa sebabnya? Saat itu saya melihat bahwa pendidikan selayaknya adalah tugas kewajiban orang tua. Jadi tanggung jawab sepenuhnya soal pendidikan, orang tua adalah sebaik-baik sumber utamanya. Jika menyerahkan fungsi pendidikan ini kepada pihak lain, maka saya berpikir bahwa orang tua tersebut meninggalkan kewajibannya sebagai pendidik yang utama.

Pada akhirnya, pemikiran saya ini tidaklah tepat. Saya belajar dan kemudian mengubah mindset semacam ini seiring pergumulan saya dengan komunitas homeschooling baik di dalam maupun di luar negeri. Saya mempelajari tentang edukasi untuk anak dan bagaimana menempatkan paradigma yang lebih “fluid” tetapi basic untuk anak.

Ada banyak yang saya ingin bagikan dalam tulisan ini sebenarnya. Hanya saja, karena tak ingin topik ini mbeleber ke mana-mana, maka saya akan batasi dulu dengan menjawab pertama utama dalam postingan ini.

Homeschool vs Sekolah? Why Not Both?

Homeschool dan sekolah sama-sama diakui di Indonesia. Keduanya merupakan metode untuk meraih ilmu. Manakah yang terbaik? Tentu jawabannya berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.

pixabay.com

Sistem yang terbaik bagi satu keluarga, belum tentu sama dengan keluarga lainnya. Setiap keluarga bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan dan keseuaian dengan “goal” masing-masing.

Dalam keluarga saya, sistem yang paling sesuai dan menurut kami mampu mengakomodasi pemenuhan kasih sayang, cinta, ilmu agama, nilai-nilai moral, norma, dan aturan hidup sesuai keyakinan kami ternyata bisa dipenuhi secara IDEAL dengan kombinasi antara homeschool dan sekolah. Ideal tentunya berdasarkan kacamata kami sebagai orang tua yang memiliki “goal”/tujuan hidup kami sebagai orang Islam.

Mengapa Memilih Kombinasi Keduanya?

Pertama, untuk menanamkan nilai-nilai agama, adab, kekeluargaan, dan kultural, kami menganggap bahwa pendidikan di rumah adalah sistem yang ideal karena kami sebagai orang tua, bisa menurunkan/mewariskan hal-hal yang kami anggap penting melalui aktivitas keseharian yang natural.

Kami mengajarkan kasih sayang, saling menghormati dengan orang lain, empati, dan nilai-nilai sosial/kultural termasuk menanamkan adab dan ibadah harian secara langsung. Saling mengingatkan jika ada kesalahan dan saling menasihati sesama anggota keluarga sebagai sistem yang saling mendukung untuk tumbuh berkembang dari lingkungan internal.

Kedua, orang tua bukanlah “jack or jill of all trades” untuk setiap ilmu yang wajib dipelajari anak. Kami hanyalah manusia biasa yang memiliki pengetahuan di satu sisi dan kekurangan di sisi yang lain.

We are maybe a master of something, but at some point, we’re just nobody. Kita bukanlah master segalanya. Sangatlah tidak realistis jika kami sebagai orang tua mengajarkan ilmu yang tidak kami miliki.

Padahal, dulunya saya sempat optimistis, bahwa saya harus menguasai apapun sebelum saya ajarkan kepada anak-anak. Namun, usia yang menua, kemampuan dan kecerdasan otak saya yang tidak bertambah, menjadikan saya berpikir ulang dan meredefinisi kembali tujuan tentang hidup ini, lalu mengadaptasikan kembali manakah jalan yang lebih efisien, realistis, tetapi tetap pada track yang lurus.

Pada akhirnya saya memilih untuk mendelegasikan pendidikan kepada ahlinya untuk materi-materi yang tidak kami kuasai. Kami menyerahkan pendidikan kepada sekolah (kami memilih ma’had/sekolah informal berbasis Islam) untuk materi-materi tertentu agar anak belajar pada ahlinya.

Kami orang tua bertindak sebagai fasilitator, menyiapkan buku-buku, guru-guru yang mumpuni, dan fasilitas lain yang bisa mendukung pendidikan anak terutama untuk materi pelajaran yang sifatnya basic (mengingat anak-anak saya masih TK- SD). Kami sangat selektif untuk memilih sekolah bagi anak-anak.

Tentu kami mempertimbangkan hal-hal yang sesuai dengan “goal” kami agar adab dan ilmu yang dipelajari sesuai dengan preferensi kami. Hal ini penting, karena perbedaan visi/misi sekolah bisa saja bertolak belakang dengan keyakinan kami, sehingga kami selektif untuk memilih tempat belajar karena materi dasar adalah pondasi yang akan dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Selain memberikan akses pendidikan lewat sekolah, kami menjaga kesesuaian pendidikan dengan metode homeschool. Dengan homeschool, peran orang tua sangat penting untuk mengarahkan dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak. Kami pun lebih memahami tujuan besar pendidikan daan mampu memetakan road map agar tetap berada di track yang lurus sesuai nilai-nilai agama dan norma-norma yang kami yakini.

Untuk selanjutnya, saat anak menginjak usia SMP, apakah saya masih mengadopsi homeschool + sekolah atau tidak? Well, bisa jadi berubah lagi atau tetap. Kami belum tahu.

Tentunya, kami sendiri selalu mengevaluasi mana sistem yang terbaik bagi keluarga kami dan tak menutup kemungkinan akan adanya perubahan, jika memang diperlukan.

Cinta Belajar adalah Kunci


Kami percaya bahwa pendidikan dengan metode homeschool atau sekolah itu adalah preferensi yang sifatnya personal. Sekolah atau homeschooling sama-sama merupakan metode untuk meraih ilmu, jadi mau pakai cara apa, silakan disesuaikan dengan preferensi atau kemampuan keluarga masing-masing. Tidak ada paksaan, tidak ada kecondongan yang A pasti lebih baik daripada B, atau memaksakan pendapat bahwa homeschool pasti lebih bagus dibandingkan sekolah.

homeschool vs sekolah manakah yang terbaik
pixabay.com

Yang terpenting adalah anak cinta belajar. Jika anak memiliki pemahaman bahwa belajar itu adalah proses seumur hidup, maka hal itu bagus. Belajar itu sejak dalam buaian, hingga ke liang lahat. Tak ada kata usai. Maka menanamkan cinta belajar adalah kunci untuk pendidikan yang berkelanjutan.

Hal penting lainnya, belajar dengan sumber ilmu yang tepat. Keterbukaan informasi membuka peluang untuk belajar apa saja, di mana saja, kapan saja, dari dalam hingga mancanegara.

Sayangnya, kita kecerdasan literasi dan selektivitas sangat diperlukan baik untuk kita sebagai orang tua maupun bagi anak-anak. Belajar dari sumber ilmu yang tepat juga memegang peran penting karena hoaks yang dibalut “informasi seakan ilmiah” begitu banyak beredar. Mengajarkan literasi dan critical thinking sangat penting dewasa ini sehingga kita tidak mudah tertipu dengan membuncahnya informasi yang tidak akurat.

TL, DR (too long, didn’t read)


Ringkasan tentang Homeschool vs Sekolah: Manakah yang Terbaik?

  • Homeschool dan sekolah sama-sama diakui di Indonesia. Keduanya merupakan metode untuk meraih ilmu. Setiap keluarga bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan dan kesesuaian dengan “goal” masing-masing.
  • Homeschool menempatkan orang tua sebagai pihak yang mengarahkan dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak. Sangat penting memahami tujuan pendidikan dalam road map yang besar agar tetap berada di track yang lurus sesuai nilai-nilai agama, keluarga, sosial yang diyakini.
  • Sekolah memiliki resources dan SDM dengan kualifikasi ilmu yang sesuai standar. Hal ini membantu memudahkan bagi orang tua yang ingin anak mempelajari ilmu pada orang yang benar-benar ahlinya.
  • Apapun metode yang dipilih, yang terpenting kita (orang tua dan anak) mau untuk terus belajar. Belajar dari sejak buaian, hingga ke liang lahat.
  • Perlu adanya kemampuan literasi dan critical thinking untuk membentengi diri dari membludaknya informasi yang beredar.

Itulah pendapat saya pribadi saat ini. Bagaimana denganmu? Metode apa yang kamu pilih untuk pendidikan anak versi ideal di keluargamu? Homeschool vs sekolah, lebih sreg yang mana? Jangan lupa tulis di komentar, saya bakal senang banget mendengar ceritamu juga!

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *